“Cara orang menghadapi musibah itu berbeda-beda.”

Posted in ID, Thoughts by

Jadi, sudah berapa hari kamu #dirumahaja? Bagaimana cara kamu untuk tetap waras di tengah musibah wabah ini?

Ketika COVID-19 baru mulai muncul di berita & menjangkiti beberapa negara, meme-meme & becandaan soal penyakit ini juga ikut muncul di medsos. Walaupun saat itu di Indonesia belum ada kasus terkonfirmasi, banyak orang sini yang ikut-ikutan bikin lelucon juga (termasuk lelucon yang “orang Indonesia kalau kena COVID-19 bukannya ke dokter malah kerokan & minum teh anget”, yang menurutku pribadi kayaknya nggak salah 😌).

Saat akhirnya di Indonesia mulai muncul kasus terkonfirmasi, salah seorang teman update status dengan bunyi kurang lebih “Mana nih yang kemaren ngejadiin COVID-19 sebagai becandaan? Gimana perasaannya sekarang setelah banyak yang kena di Indonesia? Lagi kena musibah wabah kok bisa-bisanya dijadiin becandaan!” Aku yang sejak awal memang suka ikutan retweet lelucon macam itu di Twitter merasa tersentil. Bukan karena nyesel udah ngejadiin COVID-19 sebagai bahan becandaan, tapi karena aku pikir lelucon adalah salah satu jenis cope mechanisms yang memang valid.

Soalnya begini lho… People cope with tragedy differently. Cara orang menghadapi musibah itu beda-beda dan itu nggak apa-apa. It’s perfectly fine. Beberapa orang mungkin akan langsung mendekatkan diri pada tuhan, memperbanyak ibadah, well… good for you. Yang lainnya mungkin akan jadiin semua ini sebagai bahan becandaan, yang mana good for you too. Kita nggak bisa memaksakan apa yang membuat kita ngerasa nyaman ke orang lain, wong perkara remeh macem bubur diaduk atau nggak diaduk aja nggak bisa saling menyalahkan. (Cerita sampingan: Aku tim nggak diaduk dan suamiku tim diaduk. Aku udah bilang kalo bubur diaduk itu kayak muntahan. Suamiku orangnya jijikan tapi statement aku itu nggak mengubah pendapat dia kalo bubur itu kudu diaduk 🤷🏻‍♀️)

Sekitar minggu kedua semenjak gerakan work from home alias WFH digalakkan di Bandung, perusahaan tempat suamiku bekerja bubar. Waktu itu Jumat siang jelang sore, suamiku yang sejak pagi udah kayak orang stres karena beban kerja di akhir bulan yang memang selalu banyak itu disuruh tune in untuk sebuah rapat yang ternyata pengumuman bahwa perusahaannya bubar. Selama seminggu setelah itu kerjaannya di rumah cuma main game dan scroll-scroll 9GAG. Ketika akhirnya kegalauannya mulai berkurang dan dia mulai lamar kerjaan baru ke sana-sini (secara daring, of course, because #dirumahaja), dia mulai galau lagi ketika teman-teman kantornya udah pada interview sementara dia belum. Karena ternyata ketika dia coping dengan main game selama seminggu itu, teman-temannya yang lain udah mulai masuk-masukin lamaran. Lalu apakah suamiku salah? Ya nggak lah… It was his coping mechanism. Dia butuh seminggu untuk bangkit dari shock-nya dan itu nggak apa-apa. (Sekarang alhamdulillah beliau udah dapet kerjaan lagi, ya semoga semuanya berjalan lancar AAMIIN!!)

Selain itu, harus kita ingat juga kalau everyone is fighting their own battle. Semua orang punya perjuangan masing-masing yang mungkin kita nggak tahu dan nggak akan bisa kita pahami sepenuhnya. Inilah kenapa penting buat kita untuk bisa menahan diri dan nggak sembarangan komentar.

Kamu mungkin masih ingat ketika seorang seleb MC perempuan yang memutuskan untuk lepas jilbab dan orang se-Indonesia rame-rame ngata-ngatain dia, termasuk seorang ustadz kondang dan juga sebuah brand busana muslim nasional. Bayangkan impact-nya ke kesehatan mental dia. Padahal kita nggak tahu persis apa yang sedang dia lewati saat itu. Kita juga mungkin pernah mengalami krisis iman, tapi kita bukan seleb jadi nggak terlalu disorot. Iman itu kan naik-turun dan sepenuhnya urusan masing-masing individu dan tuhannya. Kita nggak bisa memaksakan tingkat keimanan kita ke orang lain.

Aku nggak bilang kita nggak boleh nge-judge orang lain. Manusia pada dasarnya memang judgmental kok, so judge away. Tapi nggak semua yang terlintas di benakmu boleh dan pantas untuk diutarakan. Ingatlah bahwa menyakiti hati orang lain itu berbahaya (dan berdosa, kalo kamu percaya sama ajaran agama mah). Kamu berhak atas pendapatmu tapi kamu wajib menjaga perasaan orang lain.

Ketika lagi krisis kayak gini, daripada saling lempar judgment di medsos pakai subtext alias #nomention, mending saling menyemangati. Yuk semangat yuk. Yuk senyum yuk. Ingatlah kalau badai pasti berlalu dan tuhan nggak akan kasih cobaan di luar kemampuan kita.

Bonus recehan supaya kamu senyum:

Source tertera

(Featured image dari Unsplash)

3 May 2020
Previous Post Next Post

Leave a Reply

%d bloggers like this: